Minggu, 19 Desember 2010
TERBANGLAH MANTAN KEKASIHKU: KISAH SEPOTONG UBI GORENG
TERBANGLAH MANTAN KEKASIHKU: KISAH SEPOTONG UBI GORENG: "Jika aku makan ubi goreng, maka aku akan teringat pada kisah yang telah lampau. Kisah yang tak mudah dan bahkan mungkin tak akan kulupakan. ..."
Sabtu, 18 Desember 2010
TETANGGAKU YANG LUGU
Sungguh dia tak kenal mereka?
Eyeshadow, bloson, lip ice, bedak, celak, dkk.
Hem, dari sekian yang paling dia kenal hanyalah bedak dan lipe ice. Tentangeyeshadow dan blason, kurasa hanya sekali dia memakainya itu pun saat dia SD dan menjadi domas dipernikahan saudaranya.
Sedang untuk lipe ice, wau bicara tentang pemanis bibir ini, seumur-umur selama 19 tahun ini hanya dua kali dia membelinya itu pun kedua-duanya masih ada walau sudah tak utuh lagi. Kisah dia membeli lipe ice ini juga banyak temen-temen dia yang tahu. Alasan utamaku membeli lipe ice saat itu hanya mengambil kertas kartonnya saja untuk syarat dalam sebuah lomba, tapi lomba apa aku juga tidak tahu.
Muka dia memang biasa saja dan dia pun bukan tipe cewek yang suka dandan. Bahkan kalau ada make up nempel dimuka, rasanya malah gerah, panas dan berkeringat. Dia tak mau semua terjadi, so jaranglah dirinya bermake up.
Tak ada pengalaman dalam bermake up merias diri, setiap dia pakai bedak atau lips tik malah terlihat bak badut ( saking menornya gitu). Tak hanya sekali dua kali orang-orang sering menertawai dandanannya. Hahahaa benar-benar terpukul berat bila dia mendapati diri bagai ondel-ondel.
Namun belakangan dia tergiur juga punya paras yang lumayan cantik, karena dia merasa parasnya biasa-biasa saja dan sering bermimpi punya paras cantik juga. Ada yang menawarinya menggunakan suatu prodak yang dimana dengan cara instan sekitar sebulanan muka yang tadinya item akan berubah kinclong. Pertahanan dirinya runtuh, dia ikutan tergoda. Dengan uang 25 ribu rupiah, dia membeli produk kecantikan. Sebuah krim, katanya krim malam. Pakaianya harus dimalam hari.
Sesuai aturan, krim ini harus dipakai saat malam menjelang tidur. Karena dia orangnya malas maka krim itu tak setiap hari diagunakan. Emang dasarnya muka nya bukanlah muka tembok, maka tak mau juga muka nya bertahan lama-lama dicat ( dikasih krim malam ).
Awalnya hanya gatal-gatal namun lama kelamaan dia merasa kulit-kulitku mengelupas. Rasanya perih banget. Kata mbak penjual krimnya dia suruh diemin saja karena itu efek dari obat dalam krim itu. Ya sudah dia nurut saja. Namun tetap saja rasanya super perih dan kalau dipegang dimuka itu terasa kasar. Orang-orang pun bilang kalau makin hari mukanya terlihat malah pucat, bukan putih merona. Oh tobat, tak mau lagi dia pakai krim-krim. Selain pemakaiannya harus teratur dan terawat yang mana itu paling dia gak suka ribet, harganya pun bisa dibilang mahal. Oh, no keluar duit selangit untuk hasil yang tak memuaskan. Gak mau.
Itu sepenggal cerita kisah tentang tetangga Rendy yang ada di jogja, maaf nama tidak Rendy sebutkan alasan privasi.
Yogyakarta 19 Desember 2010/ 12.06
Rendy Andromeda
VENUSKU
“Kalau boleh aku ingin hidup di Saptunus. Disana aku akan bermain-main dengan cincin yang mengintari tubuh Saptunus.” ucap Venus, gadis yang kini berbaring tak berdaya termakan oleh penyakit.
“Kamu pasti bisa.Kamu gadis kuat.” ucapku lirih.
“Aku lelah tinggal di bumi yang tak indah lagi. Aku merasa tak aman. Dimana-mana hanya ada penjahat, Venus takut.”
Venus, gadis berusia 21 tahun itu harus berjuang mati-matian untuk tetap bertahan hidup melawan penyakit kanker hatinya. Wajahnya sudah tak secantik dulu, kini yang ada bak dedaunan yang layu tak terkena siraman air.
“Kalau ada laki-laki yang mencintaiku, itu hanya omong kosong. Aku hanya akan mampu mencintai laki-laki yang mau menjaga planet kesayangannya.”
Aku selalu bingung harus berkata apa pada Venus, sebenarnya aku ingin jujur kalau aku mencintainya. Namun Venus itu bukanlah wanita biasa, pikirannya selalu menerawang menembus imajinasi. Ini bukan kali pertamanya dia berimajinasi bermain-main holahop dengan cincin raksasa yang mengintari Planet Saptunus.
“Venus, aku akan membuktikan kalau aku sanggup menjaga satu planet.”
“Kamu tak akan bisa.” jawabnya sambil senyum.
“Aku janji. Aku akan menjaga planet yang ku cintai yaitu Venus. Iya, planet yang ku cintai yaitu kamu.” Venus hanya diam menatap mataku.
“Venus, bagiku kamu yang indah. Tak perlu kamu ke Saptunus, aku akan ambilkan cincin Saptunus untukmu.”
Ku tawarkan cincin yang sudah lama ku siapkan untuknya. Genangan anak sungai siap membanjir dikelopak matanya. Bibirnya juga bibirku serasa bergetar. Aku tersenyum sambil menyematkan cincin ke jari manisnya. Aku tak tahu sampai kapan Venus, planet kesayangan ku akan mampu bertahan melawan penyakitnya?
“Aku, Rendy akan menjagamu sampai kapan pun Venusku. Ku rasakan tubuhnya makin lemah dengan sekuat tenaga dia mengangguk dan tersenyum manis untukku. Sejak itu pula Venus bagian dari hidupku, aku Mr.Saptunus.
“Tapi, Cuma 2 hari saja cinta indah ini bertahan, Venus….kamu terlalu cepat pergi, mungkin kamu sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit yang kamu rasakan selama ini.
“Selamat Jalan Venusku” Tenanglah Venus disana, Mr. saptunus selalu merindukan Venus tuk selamannya.
Yogyakarta 19 Desember 2010/ 11.33
Rendy Andromeda
KISAH SEPOTONG UBI GORENG
Jika aku makan ubi goreng, maka aku akan teringat pada kisah yang telah lampau. Kisah yang tak mudah dan bahkan mungkin tak akan kulupakan. Kisah tentang ubi goreng, aku dan someone. Peristiwa itu aku alami setelah aku mengenalnya kurang lebih satu setengah tahun. Satu setengah tahun ternyata bukanlah waktu yang singkat dan sungguh satu setengah tahun itu sesuatu yang sangat berharga. Kisah kita satu setengah tahun berakhir dengan perpisahan untuk selama-lamanya
Dia, sebut saja Mbak Ratna, dia adalah juru masak yang setiap hari mengirimi rendy makan, Rendy tidak pernah masak, jadi lebih memilih pesan catering, maklum aku hidup sendirian.
Aku juga salut dan kagum pada ketaqwaan dan keimanannya. Setiap azan berkumandang segera dia tinggalkan kerjaannya dan sholat. Tak peduli warung ramai atau sepi dia bakal meninggalkan kerjaan dan menuju masjid untuk sholat
Sosok yang jarang bisa ku temui dilingkungan yang baru ku kenal, satu setengah tahun.
Rend”
Rend. Ya, bukan Rendy tapi Rend dia sering memanggilku. Tak akan ku lupa sosoknya, yang setiap pagi menyambutku dengan senyum ramahnya
Saat ku tulis kisah ini, betapa aku sangat merindukanmu Mbak Ratna
Seperti yang ku bilang entah kapan tepatnya, yang jelas satu setengah tahun saat aku mengenal dan mulai akrab dengannya, saat itu pula dia pergi dari hadapanku untuk selama-lamanya.
Allah telah memanggilnya dengan tanpa peringatan atau tanda-tanda sedikitpun. Pilu rasanya mengingat itu semua. Orang yang benar-benar baru kita kenal dan baik menerima kita, tanpa ada kata terakhir atau pesan terakhir pergi begitu saja.
Malam itu kami bersama teman-teman mau mengadakan acara amal buat orang jompo, rencananya kami mau bagi-bagi makanan dan tanda mata, kami sepakat memanggil Mbak Ratna buat memasak makanan untuk kami bagi-bagikan esok hari.
Malam itu sekitar jam 9 malam ku lihat dia telah berbaring dikamar deket dapur, dia berkata kalau dirinya lagi tidak enak badan, masuk angin. Dia meminta untuk istirahat terlebih dahulu. Namun apa yang terjadi berikutnya? Ketika aku dan semua tengah dinina bobokan oleh mimpi-mimpi dalam tidur sekitar jam 1 dini hari, teman-teman yang lain membangunkan seisi rumah mengabarkan bahwa Mbak Ratna tiba-tiba kejang. Aku dan teman yang laki-laki berusaha menyelamatkannya dengan membawanya ke rumah sakit terdekat. Tapi Sang Kuasa berkata lain, dan Mbak Ratna meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit tanpa sedikit pun bantuan sempat dia terima. Meninggalnya pun sungguh dengan sangat tenang tanpa harus merepotkan yang lain.
Tubuhku lemas, dadaku sesak, air mata terus mengalir mendengar semua itu. Sesosok yang ku kagumi harus berpulang pada-Nya malam itu juga. Pergi untuk selamanya dan tak kan kembali.
Malam itu duniaku begitu gelap. Masih kuingat dan terbayang selalu,apa yang terjadi sebelum malam itu datang. Pagi itu sebelum malam itu datang menjemput mautnya, kita masih saling berbagi. Berbagi makanan yang sebelumnya tak pernah kami lakukan dengan cara unik seperti ini. Makanan yang kami bagipun bukanlah makanan yang mewah, bahkan dibilang makanan yang murah meriah. Kami berbagi ubi goreng. Secuil ubi goreng diakhir-akhir hayatnya untukku.
“Wah mau Mbak, bagi dong.”
“Tinggal satu Rend.”
“Weh, buat aku saja Mbak.”
“Gak mau. Kamu tak bagi aja. Kamu tepung kulit luarnya, aku ubi si dalemannya.”
“ Gak mau, pokoknya bagi adil Mbak. Bagi rata sama aku.”
Ubi dibalut tepung terigu dan digoreng, nikmatnya dimakan saat masih panas. Kisahku denganmu ternyata berakhir disana. Satu kenangan yang akan senantiasa mengingatkanku pada sosok yang tak mudah menyerah, yaitu kauMbak Ratna.
Sungguh aku tak menyangka lewat secuil ubi goreng, dia bagikan keceriaan dan kisah terakhirnya padaku. Kadang menyesal kenapa tak ku suruh saja dia makan ubi goreng itu sendiri tanpa harus membaginya secuil untukku. Aku saat ini masih bisa menikmati ubi goreng, sedangkan dia? Semoga engkau bahagia disana, My Sister.
Mengenalmu adalah sebuah kisah indah dalam hidupku.
Secuil ubi goreng untuk mengingat senyum terakhirmu. Kamu selalu hidup dalam hatiku.
Kisah secuil ubi goreng untuk engkau yang ada disana.
Dari secuil ubi goreng ku kabarkan kisah ini di bumi ditempat ku berpijak.
Yogyakarta 18 Desember 2010/ 19.39
Rendy Andromeda
Untuk someone, semoga engkau tenang disana saudaraku,
Langganan:
Komentar (Atom)
